Islam Toleran Sebagai Solusi Keberagaman

Keyakinan ini bermula ketika turunnya manusia pertama ke muka bumi ini, yaitu Nabiyullah Adam AS. Namun saat itu masih berupa ajaran Tauhid, bukan bernama Islam sebagaimana kita sebut sekarang ini. Sejarah panjang penyempurnaan agama Allah kemudian berakhir di pundak nabi agung yang diutus sebagai penyempurna agama Allah yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk menyampaikan agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam ini. Nah, Islam disini sebagaimana kita tahu adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang menjadi rahmat untuk seluruh alam. Ini tentu berarti Islam wajib memosisikan “dirinya” sebagai pemersatu, sebagai pemberi kedamaian, sebagai jalan yang berakhir memberi keselamatan untuk seluruh alam ini. Yang perlu digarisbawahi adalah disini “seluruh alam” berarti terdiri atas berbagai macam keberagaman, karena tentu mustahil di muka bumi ini tidak ada keberagaman. Untuk itu tentu yang kita butuhkan sebenarnya bukan seseorang yang ahli ibadah namun sangat anti terhadap keberagaman; bukan seseorang yang tinggi ilmunya lalu dia menuduh golongan lain kafir, bid’ah, masuk neraka; apalagi mereka yang bahkan tidak mempunyai ilmu yang memadai kemudian mencaci maki saudaranya yang entah berbeda aliran, berbeda kepercayaan atau perbedaan-perbedaan yang lainnya.  Yang benar-benar kita butuhkan adalah orang islam yang menghargai setiap perbedaan yang ada, tak peduli seberapa tinggi ilmu orang tersebut.

            Jika kita lihat ditempat manapun, masalah permusuhan selalu berawal dari perbedaan,entah perbedaan apapun itu lalu salah satunya tidak bisa menerima perbedaan tersebut. Tak terhitung banyaknya konflik yang bermula dari suatu perbedaan. Tak perlu jauh-jauh, jika kita menengok ke belakang dahulu selepas kepergian Nabi Muhammad SAW, konflik antara kubu Sayyidina Ali dengan kubu Mu’awiyah berawal dari perbedaan pandangan politik. Sebenarnya bibit-bibit permusuhan sudah terlihat ketika terbunuhnya Sayyidina Utsman yang juga berlandaskan perbedaan pandangan politik juga. Hal ini berlanjut bahkan hingga terbunuhnya kedua cucu mulia Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Hussein. Kita bisa melihat mirisnya dampak yang muncul akibat perbedaan yang muncul saat itu. Mirisnya saat itu yang terbunuh adalah cucu dari Nabi Muhammad SAW sendiri. Nah, dari situ kemudian muncul 2 aliran sempalan, yang  tentu saja bukan aliran  Ahlussunnah Waljama’ah. Yang pertama adalah golongan Khawarij. Golongan ini adalah aliran yang bermula karena adanya sekelompok orang yang tidak setuju dengan penobatan Sayyidina Ali sebagai khalifah setelah Sayyidina Utsman saat itu. Tentu saja golongan ini sangat benci dengan Sayyidina Ali dan menganggap penobatan Mu’awiyah sebagai khalifah adalah sah. Golongan Khawarij ini cenderung ekstrem dan bahkan saat itu mereka tak segan membunuh Sayyidina Ali serta pendukung dan keturunannya hanya karena mereka membela dan menganggap kekhalifahan yang sah dan benar pada masa itu ada di pihak Mu’awiyah. Aliran yang satu lagi tentu sudah banyak orang yang tahu tentang aliran ini. Aliran ini disebut Syi’ah. Sebaliknya, aliran ini justru sangat menjunjung nama Sayyidina Ali, namun dengan cara yang salah. Mereka menganggap Sayyidina Ali lebih baik daripada Rasulullah dan tidak mau mengakui kekhalifahan 3 sahabat sebelumnya yaitu Sayyidina Abu Bakar, Utsman dan Umar. Disini kita bisa menyimpulkan bahwa akar dari permasalahan pada masa itu hanya satu, yaitu perbedaan berdasar pandangan politik namun akibat yang muncul merembet kemana-mana. Dari terbunuhnya keturunan mulia Rasulullah SAW hingga munculnya aliran sempalan yang masih bertahan hingga saat ini. Contoh yang lain?Lihat saja konflik Sunni-Syiah di Timur Tengah yang berlatarbelakang perbedaan aliran yang sampai hari ini masih kerap “kumat”.        

Di Indonesia, orang-orang yang beragama Islam cenderung “tak peduli” kepada identitas yang penting kerukunan terjaga di antara mereka. “ Tak peduli” disini bukan berarti acuh tak acuh namun konteks “tak peduli” lebih menunjukkan sisi toleran yang mendalam dari umat Islam yang ada di nusantara. Mereka tak peduli entah mereka berteman dengan si Kristen, berbisnis dengan si Buddha bahkan ngopi di warung kopi orang atheis mereka tak pernah peduli. Mindset yang muncul kemudian adalah “tak peduli dengan siapa aku bergaul, selama aku masih berdiri diatas Islam, aku tak peduli”. Maka dari itu yang kemudian lahir adalah persahabatan berbeda keyakinan namun hubungan kekeluargaan yang timbul sangat kuat. Mereka tidak memaksa para pemeluk agama lain,meskipun itu sahabatnya sendiri untuk berpindah agama ke Islam karena mereka tahu bahwa yang memberi hidayah untuk masuk Islam hanyalah Allah Swt. Di zaman sekarang model Islam moderat yang lebih akrab dengan toleransi inilah yang menjadi model idaman kehidupan di dunia ini maka tidak heran jika banyak negara yang ingin berguru, ingin menerapkan model kehidupan seperti di Indonesia ini di negara mereka masing-masing. Jika perbedaan adalah rahmat, kenapa harus ada konflik ketika perbedaan muncul di tengah-tengah  masyarakat?. Jika kita melihat suri tauladan kita yaitu Nabi Muhammad SAW, beliau adalah pribadi yang memiliki sifat toleransi yang sangat tinggi. Ini dicontohkan ketika Nabi Muhammad SAW mau menyuapi seorang Nasrani buta yang selalu mencaci-maki beliau bahkan hal itu dilakukan Sang Nabi SAW sampai akhir hayatnya. Namun beliau juga mencontohkan  jangan sampai melewati batas-batas yang berlaku di agama. Pesan dari Nabi SAW ini kemudian sampai di nusantara melalui Walisongo sang penyambung lidah Nabi SAW. Kita patut banyak banyak mendoakan arwah Walisongo karena beliau-beliau lah yang membawa dan menanamkan pola pikir Islam yang penuh dengan rasa toleransi. Di masa lalu Allah Swt. sudah memberikan contoh kalau perbedaan yang tidak didasari rasa toleransi akan menimbulkan perseteruan yang tak ada habisnya. Juga di masa sekarang Allah Swt. memberi contoh Islam yang membawa perdamaian seperti di Indonesia yang ajarannya dibawa dengan ramah tamah oleh Walisongo. Nah, sekarang tinggal kita yang menentukan akan dibawa kemana arah langkah kehidupan kita, mau menjadi Islam dengan “sumbu pendek” alias Islam intoleran atau ber-Islam penuh kedamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *